Gelombang aspirasi kembali memadati jalanan pusat kota Yogyakarta seiring dengan keresahan para akademisi muda terkait kebijakan biaya pendidikan yang melonjak. Aksi Demo Mahasiswa Jogja kali ini menyasar kebijakan rektorat dan pemerintah pusat yang secara mendadak menaikkan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) di berbagai perguruan tinggi negeri. Ribuan mahasiswa dari berbagai almamater bergabung untuk menyuarakan bahwa pendidikan tinggi seharusnya menjadi hak setiap warga negara, bukan komoditas komersial yang hanya bisa diakses oleh kalangan ekonomi atas.
Dalam orasinya, para koordinator lapangan menegaskan bahwa Demo Mahasiswa Jogja ini dipicu oleh banyaknya laporan rekan-rekan mereka yang terancam putus kuliah akibat beban biaya yang tidak masuk akal. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kenaikan UKT dianggap sebagai langkah yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat kecil. Mahasiswa menuntut adanya transparansi dalam pengelolaan anggaran kampus dan meminta pemerintah untuk meninjau kembali alokasi subsidi pendidikan agar tepat sasaran bagi keluarga yang membutuhkan.
Meskipun cuaca di Yogyakarta cukup terik, semangat peserta Demo Mahasiswa Jogja tidak surut untuk terus bertahan di depan gedung pemerintahan. Mereka membawa berbagai poster kreatif yang intinya menolak komersialisasi pendidikan. Para orator menekankan bahwa jika biaya kuliah terus melambung, maka mimpi Indonesia Emas di masa depan hanya akan menjadi slogan belaka karena akses pendidikan yang tertutup bagi rakyat miskin. Ketegangan sempat terjadi saat massa mencoba mendekat ke pintu gerbang, namun aksi tetap berjalan kondusif berkat koordinasi yang baik dengan pihak keamanan.
Pihak kepolisian yang mengawal jalanannya Demo Mahasiswa Jogja memastikan bahwa arus lalu lintas di sekitar lokasi dialihkan untuk menghindari kemacetan parah. Selain mahasiswa, nampak pula beberapa perwakilan orang tua murid dan elemen masyarakat sipil yang turut memberikan dukungan moral. Mereka merasa bahwa beban pendidikan saat ini sudah melampaui kemampuan upah minimum rata-rata di daerah tersebut. Diskusi terbuka antara perwakilan mahasiswa dan pihak pengambil kebijakan sangat diharapkan bisa segera terlaksana guna mencapai kesepakatan yang adil bagi semua pihak.
Hingga sore hari, massa Demo Mahasiswa Jogja akhirnya membubarkan diri secara teratur setelah memberikan pernyataan sikap secara resmi. Mereka berjanji akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar jika tuntutan untuk menurunkan biaya pendidikan tidak segera dipenuhi dalam waktu dekat. Perjuangan ini bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan soal keberlanjutan masa depan generasi muda Indonesia. Pendidikan harus tetap menjadi eskalator sosial yang terjangkau bagi seluruh rakyat tanpa kecuali, demi terciptanya keadilan sosial bagi seluruh bangsa.
